Pengaruh Game

15 Dec 2011 15:30 | Hits: 2361

Study Menemukan Pengaruh Game Kekerasan Mengganggu Emosi dan Kognisi Remaja Pria

Study Menemukan Pengaruh Game Kekerasan Mengganggu Emosi dan Kognisi Remaja Pria

Game mungkin tidak tertanam di otak Anda, tetapi mereka dapat mengubah cara Anda berpikir, sebuah studi baru yang disajikan pada pertemuan tahunan Masyarakat Radiologi Amerika Utara mengungkapkan pengaruh game tersebut.

Studi pengaruh game ini menunjukkan satu minggu dari bermain game yang mengandung kekerasan, seperti game action, dapat mengakibatkan perubahan di daerah otak yang berhubungan dengan fungsi kognitif dan pengendalian emosi pada remaja pria.

Penelitian mengambil sampel acak dari 22 orang dewasa muda (18 hingga 29 tahun) yang kemudian di eksposur dengan video game kekerasan untuk melihat pengaruh game tersebut. Setengah diminta untuk memainkan permainan menembak dalam waktu 10 jam setiap hari selama seminggu, dan kemudian berhenti selama satu minggu. Kelompok lain diminta untuk tidak memainkan video game kekerasan dengan periode yang sama selama dua-minggu.

Semua 22 orang relawan tersebut menjalani fMRI (functional magnetic resonance imaging) pada awal ujian, setelah satu minggu, dan pada akhir dari dua minggu tes. Selama fMRI, relawan diminta untuk menyelesaikan tugas-tugas sederhana yang merupakan tes gangguan emosional dan kognitif—tes yang dirancang untuk membatasi kemampuan subjek dalam merespon. Dalam tes bertujuan untuk melihat pengaruh game ini mereka diminta untuk menekan tombol yang berhubungan dengan warna dan berhitung sementara kata-kata yang menunjukkan violent dan non-violent ditampilkan dalam bentuk flashing (hanya sebentar melintas).

Hasil tes pengaruh game ini menunjukkan bahwa setelah satu minggu bermain game kekerasan, relawan menunjukkan berkurangnya aktivasi pada left inferior frontal lobe selama menjalankan tes emosional, dan berkurangnya aktivasi pada anterior cingulated cortex selama menjalankan tes menghitung, jika dibandingkan dengan hasil tes yang mereka lakukan minggu pertama sebelum bermain game. Dan tes terakhir menunjukkan grup yang tidak bermain game kembali normal, sementara grup yang masih bermain game tetap menunjukkan berkurangnya aktivasi.

"Bagian otak yang disebutkan di atas penting untuk mengontrol emosi dan perilaku agresif," ungkap Yang Wang, M.D., assistant research professor di Department of Radiology and Imaging Sciences, Indiana University School of Medicine, Indianapolis.

Telah terjadi perseteruan panjang dan kontroversial mengenai pengaruh game ini antara orang-orang yang mengatakan video game mengandung kekerasan buruk bagi anak-anak dengan aktivis game yang mengatakan hanya ada sedikit atau tidak ada bukti ilmiah. Entah apakah studi ini bisa menjadi fakta penting atau bukti ilmiah bagi mereka yang pro terhadap game. Karena mereka yang pro terhadap game masih bisa berargumen ukuran sampel masih relatif kecil, hanya mempelajari 22 remaja pria. Namun tetap penelitian tersebut didukung oleh Center for Successful Parenting di Indiana.

Namun sayang terdapat beberapa ketidak jelasan atas tes pengaruh game ini. Seperti tidak ada kejelasan tentang game apa yang dimainkan oleh relawan penelitian tersebut. Pertanyaan tentang apakah hasil tes tersebut bisa di implementasikan pada materi kekerasan lain seperti musik atau film juga masih belum mendapatkan jawaban.

Dan satu lagi ketidakjelasan dari penelitian pengaruh game ini adalah apakah hasil tersebut karena kekerasan dalam permainan video? Durasi waktu bermain game? Dan apakah hasil akan sama apabila relawan merupakan laki-laki dewasa?

Penelitian ini mungkin memang masih memiliki banyak celah yang belum terisi mengenai kontroversi pengaruh game kekerasan bagi remaja pria. Namun, bagaimana menurut Anda, apakah penelitian ini hanyalah omong kosong belaka? Atau satu poin baru yang layak untuk diperhatikan? [RY]