Dampak Jejaring Sosial

05 Mar 2012 14:30 | Hits: 2709

Studi Tentang Dampak Jejaring Sosial Bagi Pengguna

Studi Tentang Dampak Jejaring Sosial Bagi Pengguna

Beberapa pihak pernah membahas mengenai dampak jejaring sosial, dan sebagian melihatnya sebagai dampak negatif. Apakah benar akan akan selalu seperti itu? Berikut Paseban bahas dua penelitian tentang dampak jejaring sosial tersebut, dengan hasil yang tidak selalu negatif.

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa layanan jejaring sosial bisa menimbulkan kecanduan, lebih sulit untuk dilawan daripada rokok atau alkohol. Sebuah tim dari University of Chicago’s Booth School of Business baru-baru ini melakukan percobaan yang melibatkan 205 orang di Wurtzburg, Jerman untuk menganalisis sifat adiktif dari dampak jejaring sosial ini.

Peserta dalam studi dampak jejaring sosial ini disurvei selama seminggu melalui smartphone BlackBerry, tujuh kali per hari dan diminta untuk melaporkan ketika mereka mengalami keinginan mengakses jejaring sosial dalam 30 menit terakhir, dan apakah mereka menyerah atau tidak pada keinginan tersebut. Mereka juga diminta untuk mengukur setiap keinginan tersebut mulai dari skala ringan hingga tak tertahankan. Totalnya, 10.558 tanggapan dicatat dan total 7.827 keinginan dilaporkan oleh peserta.

"Kehidupan modern merupakan tempatnya berbagai macam atau hiruk-pikuk keinginan yang ditandai dengan konflik dan resistensi, di mana resistensi memiliki tingkat keberhasilan yang tidak rata," kata Wilhelm Hofmann, pemimpin tim penelitian tersebut. Hofmann menunjukkan bahwa orang akan gagal untuk melawan keinginan mengakses jejaring sosial karena tidak ada kerugian yang jelas untuk memeriksa layanan jejaring sosial. Kerugian yang dimiliki hanyalah bahwa layanan ini akhirnya dapat menguras waktu pengguna. Lalu apakah dampak jejaring sosial ini bisa dibilang negatif? Belum tentu.

Mengikuti penelitian dampak jejaring sosial di atas, tim peneliti dari MIT di Massachusetts, IULM University di Milan dan dua lab lain di Italia menemukan bahwa respon fisik dan psychophysiological saat menggunakan jejaring sosial mirip dengan yang ditunjukkan saat seseorang bermain alat musik atau terlibat dalam kegiatan kreatif lainnya. Di luar keinginan menggunakan jejaring sosial—karena alasan yang jelas seperti tetap berhubungan dengan teman dan berbagi foto —orang sebenarnya bisa mencari respon kimia yang mereka alami saat browsing jaringan sosial.

Tim peneliti dampak jejaring sosial ini mengukur konduktansi kulit, denyut volume darah, electroencephalogram (merekaman aktivitas listrik sepanjang kulit kepala), electromyography (teknik untuk mengevaluasi dan merekam aktivitas listrik yang dihasilkan oleh otot rangka), aktivitas pernafasan dan pelebaran pupil mata dalam 30 subyek saat orang melihat foto atau pemandangan alam, berusaha untuk memecahkan masalah Matematika, dan kemudian saat mereka browsing jejaring sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola psychophysiological sangatlah jelas.

Tim ilmuwan melaporkan, analisa statistik dari data psychophysiological dan pelebaran pupil mata menunjukkan bahwa pengalaman menggunakan jejaring sosial secara signifikan berbeda dari stres dan relaksasi pada aktivitas somatic (yang melihat tubuh dan mental sebagai satu kesatuan, dan melakukan terapi pada tubuh untuk mencapai suatu keadaan psikologis tertentu). Selain itu, sinyal biologis mengungkapkan bahwa dampak jejaring sosial, dalam hal penggunaan bisa membangkitkan suatu keadaan psychophysiological yang ditandai dengan valensi (derajat penarikan hati perseorangan) dan gairah positif yang tinggi.

Hasil dari penelitian ini, para ilmuwan berhipotesis bahwa setidaknya sebagian dari dampak jejaring sosial dapat dikaitkan dengan hal positif pada fisik dan psychophysiological pengguna saat browsing situs-situs jejaring sosial. [RY]