Baterai Lithium Ion

27 Oct 2012 17:00 | Hits: 7593

Baterai Lithium Ion vs Lithium Poly, dan Bagaimana Baterai Lithium Bekerja

Baterai Lithium Ion vs Lithium Poly, dan Bagaimana Baterai Lithium Bekerja

Teknologi baterai telah menjadi dasar bagi semua perangkat mobile dewasa ini. Namun jarang sekali bagi para pengguna teknologi ini khususnya para pengguna ponsel mengetahui apa perbedaan baterai lithium ion dengan lithium poly yang tertanam di dalam ponselnya. Untuk menjelaskan kedua baterai tersebut, maka khusus pada artikel kali ini Paseban akan membahas tentang perbedaan dan cara kerja dari baterai lithium ion dan lithium poly yang mana memiliki nama populer sebagai Li-Ion dan Li-Poly. Berikut ulasannya bagaimana mereka bekerja dan perbedaan di antara mereka.

Pengetahuan Dasar Baterai

Sangat bagus untuk memulai segalanya dari dasar - jadi mari kita lihat apa sebenarnya baterai lithium yang sering kita temukan di dalam perangkat mobile kita. Apakah itu Alkaline atau baterai rechargeable, Nickel Metal Hydride atau Lithium Polymer, baterai merupakan sebuah cara untuk mengkonveriskan energi dri bahan kimia tertentu ke dalam bentuk listrik.

Elemen dasar dari baterai adalah electrochemical cell atau sel elektrokimia. Yang mana separuh dari cell-nya tersebut terbuat dari elektroda (logam padat) dan elektrolit. Elektrolit dapat berupa substansi di mana Ion, atom bermuatan listrik atau molekul, dapat dipisahkan dengan elektrolisis (yaitu ketika potensial listrik diterapkan). Elektrolit dapat berupa cairan / gel ('asam baterai' misalnya) atau padatan (Sodium Chloride). Kesemua sel ini disatukan oleh Salt Bridge melalui Ion yang mana telah dilepaskan oleh elektrolit yang terkait ke sel lainnya.

Bahan kima yang digunakan untuk elektrolit dan logam yang digunakan untuk elektroda harus dipilih dengan hati-hati untuk mendapatkan reaksi yang diinginkan. Terkadang arus listrik harus diterapkan untuk menciptakan suatu reaksi–hal ini disebut elektrolisis.

Ketika bahan kimia yang digunakan dalam suati kombinasi yang mana mereka bereaksi namun tidak memancarkan energi listrik, maka hal ini disebut dengan Galvanic Cell yang mana energi listrik dilepaskan oleh reaksi kimia yang terjadi pada satu atau kedua elektroda dan tegangan berada di antara dua elektroda.

Cells dapat saja berukuran sangat kecil, dan dengan mengkombinasikan mereka, kita akan mendapatkan baterai dari cells. Untuk baterai stAndar, biasanya produsen mengambil lembaran bahan untuk elektroda dan elektrolit, dan membungkus mereka secara bersamaan, dan mengapa itulah baterai tua AA selalu berbentuk silinder.

Teknologi Lithium Ion

Penelitian tentang baterai Lithium telah dimulai pada saat tahun 1912, namun butuh hingga sampai abad ke-21 untuk membuat baterai lithium berbentuk ekonomis dan dapat digunakan untuk perangkat para konsumen. Alasa utamanya adalah kesulitan dalam penggunaannya yang tidak stabil dalam kondisi tertentu.

Dibandingkan dengan baterai yang lebih tua, Nickel-Cadmium dan baterai isi ulang Nikel Metal Hydride, baterai Lithium Ion lebih baik karena Li-Ion memiliki kepadatan energi yang lebih spesifik (energi yang tersimpan per satuan volume), memiliki tingkat self-discharge yang lebih rendah, ditambah mereka tidak memiliki karateristik yang sama dengan baterai tua yang lainnya dan untuk menghindari siklus "memory effect”.

Baterai Lithium Ion menggunakan logam senyawa oksida pada katoda, yaitu elektroda positif selama baterai dalam posisi discharge. Banyak perbedaan senyawa yang digunakan untuk menciptakan baterai Lithium untuk perangkat Anda, tetapi banyak para pengguna tidak menyadari akan hal ini, dan Lithium Ion atau lebih popuelr di sebut dengan Li-Ion digunakan oleh para pengguna untuk mengartikan semua bahan yang terkandung di dalamnya. Setiap senyawa memiliki kelebihan dan kekurangan jika dibandingkan dengan alternatif lain, dan begitu juga dipilih karena sangat sesuai dengan pengaplikasiannya.

Dalam dunia modern saat ini, baterai Li-Ion, Graphite digunakan sebagai anoda (elektroda negatif saat dalam posisi discharge). Dalam posisi debit, atom Lithium dilepaskan dari katoda dan melepaskan elektron, sehingga menjadi terionisasi dan diterima oleh anoda grafit. Elektron dilepaskan dari Lithium yang membuat arus yang kekuatan kekuatan perangkatnya terhubung ke baterai.

Apakah Lithium Polymer Berbeda?

Kemungkinan ketika Anda membaca artikel ini, Anda pernah mendengar tentang Lithium Polymer atau yang populer disebut dengan Li-Po sebagai jenis baterai yang berbeda dari Li-Ion. Perbedaan diantara keduanya terletak pada bahan yang digunakan sebagai pemisah. Daripada zat inert dengan lubang ercakup dalam elektrolit, pemisah terbuat dari polimer mikro-pori tertutup gel elektrolit yang juga berfungsi sebagai katalis yang mengurangi hambatan energi dalam reaksi kimia antara katoda dan anoda. Oleh karena itu, baterai Li-Polymer memungkinkan untuk dilakukan peningkatan kepadatan energi. Namun keunggulan ini diimbangi dengan kenaikan biaya 10% sampai 30%. Oleh karena itu, bahan yang sama digunakan untuk katoda dan anoda, baterai Li-Polymer mengikuti proses kimia yang sama seperti baterai Li-Ion dengan begitu kedua baterai ini tidak berada di kelas yang berbeda. [PY]